Membatu di Merbabu (bagian kedua)

Sambungan dari bagian pertama.

Sampai dengan pukul setengah lima lebih suami kemudian beranjak keluar. Ternyata membuat api unggun lagi. Langit di luar masih terlihat gelap. Biasanya sih kalau dari gunung, jam segitu sudah bisa melihat langit yang mulai berubah terang di ufuk timur. Tetapi dari posisi pos satu itu tertutup pepohonan dan letak pos ini juga agak di ceruk, jadi tetap saja gelap.

Dengan berdiang di api ini terasa lebih hangat. Kami pun membuat mi kuah dengan menggunakan kompor. Ternyata kami tidak membawa sendok, akhirnya makan seadanya dengan kondisi darurat.

Setelah dirasa cukup, suami menawarkan untuk mencoba naik sedikit. Tenda dibereskan dan sisa-sisa api unggun dimatikan. Ransel dibawa suami semua. Tetapi setelah berjalan sekitar 300 meter, sepertinya aku menyerah saja. Akhirnya di sana kami hanya berfoto-foto saja sebentar. Kemudian kami memutuskan untuk turun kembali ke bawah tidak jadi meneruskan pendakian.

Bangun pagi hari setelah kedinginan di tenda

Bangun pagi hari setelah kedinginan di tenda

Mencoba melanjutkan perjalanan kembali.

Mencoba melanjutkan perjalanan kembali.

Kayaknya malah kecapekan menunggu aku jalan tuh...

Kayaknya malah kecapekan menunggu aku jalan tuh…

Perjalanan menurun ternyata juga tidak ringan, khususnya bagiku. Untung ada tongkat bambu yang bisa membantu menahan tubuh saat melangkah turun. Meskipun demikian dengan kondisi terang oleh sinar matahari seperti ini, pemandangan dan suasana gunung menjadi lebih indah. Kami menikmati pemandangan ini dengan sesekali berfoto. Di beberapa tempat, gunung merapi juga sudah mulai tampak indah.

Beberapa kali kami tetap berhenti beristirahat. Berjalan di siang hari lebih membuat tubuh mengeluarkan keringat bercucuran. Meskipun jaket sudah dilepas namun peluh tetap keluar.

Dalam perjalanan menurun kami sempat bertemu beberapa rombongan pendaki yang memulai perjalanan di pagi hari. Kalau sudah berpapasan seperti ini tentu saja salah satu harus berhenti minggir karena jalan setapak cukup sempit.

Waktu untuk menempuh perjalanan turun sampai ke pos pendakian ternyata lebih cepat. Tidak sampai pukul 10 pagi, kami pun sudah sampai kembali di pos juru kunci. Di sini langsung beristirahat. Ternyata di sana pun kami dapat memesan nasi soto dan minuman hangat. Lumayan juga untuk penghangat badan.

Gunung Merapi di kejauhan.

Gunung Merapi di kejauhan.

Di depan gerbang pendakian Merbabu.

Di depan gerbang pendakian Merbabu.

Sekitar jam 12an, rombongan kakak datang menyusul kami dari Yogya. Jadi sekalian liburan kami menghabiskan waktu itu di rumah juru kunci ini. Sekitar jam 1an, rombongan anak-anak sampailah kembali di bawah. Wah senang sekali mereka bercerita tadi di atas. Ternyata mereka juga tidak sampai di puncak, hanya sampai di pos terakhir. Saya kira sudah cukup bagus sih mereka mendapatkan pengalaman itu. Termasuk juga buat saya, yang baru kali itu bermalam di lereng gunung.

Setelah beristirahat dan mencuci kaki, kami pun turun ke Selo. Perbekalan pun dibereskan kembali. Di Selo kami berhenti di tempat parkiran bawah yang cukup bagus untuk beristirahat. Kami pun makan siang menyantap bekal yang dibawa kakak dari Yogya. Setelah selesai kami pun kembali ke Yogya dengan membawa pengalaman yang cukup berkesan.

Berpose bersama di depan rumah juru kunci gunung Merbabu

Berpose bersama di depan rumah juru kunci gunung Merbabu

Perjalanan mendaki Merbabu ini juga pernah ditulis di blog anakku di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s