Membatu di Merbabu (bagian pertama)

Ini sekedar tulisan perjalanan pertengahan tahun 2013 lalu saat pertama kalinya sampai usia sekarang ini diajak naik gunung. Seumur-umur ini saya memang tidak pernah membayangkan akan naik gunung. Jadi baru kali itu saja naik karena dipaksa mencoba saja.

Gunung yang akan didaki waktu itu adalah gunung Merbabu. Gunung ini terletak bersebelahan dengan gunung Merapi. Ketinggian gunung ini sekitar 3200 meter di atas permukaan laut. Saya memang tidak bisa membayangkan untuk mencoba ikut naik. Tetapi berhubung situasi waktu itu akhirnya mencoba ikutan naik juga.

Ceritanya waktu itu, Ian, anak saya yang kecil selesai ujian. Sorenya langsung diajak suami untuk naik ke gunung. Perjalanan ditemani oleh dua orang mahasiswa suami saya, mas Aan dan mas Rifki. Akhirnya kami berempat termasuk Ninna, berangkat. Perjalanan kali ini juga mengajak Awang, keponakan saya.

Dari Yogya, perjalanan sudah malam. Magrib kami masih di rumah mas Aan, untuk menyelesaikan ngepaki barang. Makan malam dilakukan di lesehan Prambanan. Sampai di Selo tempat juru kunci pendakian Merbabu dari arah selatan pun sudah cukup larut malam, sekitar pukul 10 lebih.

Suasana cukup tenang karena memang kawasan pedesaan di daerah pegunungan. Hawanya itu yang relatif cukup dingin. Di rumah juru kunci yang juga sebagai pos pendakian pun kami menurunkan barang-barang dari mobil. Kami segera mengganti baju menjadi lebih hangat dengan dibuat rangkap dan berjaket tebal. Tidak lupa tutup kepala dan sarung tangan.

Rombongan kami siap mendaki

Bersama Ninna dalam pakaian rangkap banyak

Saya tadinya hanya akan berhenti menunggu di rumah pos juru kunci ini. Namun ternyata kalau ditinggal sendirian kurang nyaman, akhirnya ditawari untuk ikut saja. Saya sebenarnya yang khawatir itu adalah sakit di punggung saya, yang kadang terasa nyeri kalau membawa beban berat. Akhirnya saya hanya diberi ransel ringan dan membawa tongkat bambu.

Tak terbayangkan waktu itu harus memulai langkah menanjak merayapi lereng gunung di keheningan malam. Perjalanan dimulai dengan berdoa bersama agar diberi kelancaran. Kemudian waktu itu kami satu rombongan terdiri dari tujuh orang. Ternyata saat itu juga ada dua orang pendaki yang berasal dari Jakarta, ikut bersama kami.

Perjalanan dimulai dari depan pos yang mengikuti jalan kecil beraspal. Namun jalanan aspal ini hanya 200 meter saja. Setelah sampai di gerbang pendakian, dimulai langsung dengan mengikuti jalan setapak. Di sana masih banyak pepohonan tinggi dan terlihat di tanah juga berserakan bunga-bunga putih.

Kami berjalan beriringan. Senter di tangan kami membantu untuk penerangan sehingga jalan dapat terlihat. Kadang kami bercakap-cakap dengan riang. Tidak terasa mulailah aku agak merasa kepayahan. Mulai diminta minum air putih seteguk dan kemudian berjalan lagi. Ian juga sudah mulai agak kurang nyaman. Sebentar-sebentar minta berhenti dahulu. Mungkin tadi penyesuaian cuaca tidak terlalu lama sih.

Setelah berjalan lewat setengah jam, tubuh sudah mulai basah kuyup oleh keringat yang bercucuran. Meskipun udara sangat dingin, tetapi keringat tetap keluar dalam jaket. Saat itu udara cukup bagus, tidak ada hujan. Angin juga belum mulai terasa karena perjalanan kami masih dinaungi pepohonan.

Saya sudah mulai khawatir akan kondisi saya. Terutama memikirkan nanti pulangnya juga harus berjalan menuruni lereng ini. Walaupun sudah mencoba untuk menenang-nenangkan diri saja, akhirnya malah kurang konsentrasi. Pada tikungan jalan yang agak menanjak, kakiku malah terperosok dan hampir saja terjungkal ke jurang kecil. Untung saja tangan masih bisa menggamit dahan semak-semak dan segera ditahan suami. Waduh… untung saja. Akhirnya di situ ransel dipindah dibawa suami. Setelah mengambil nafas sejenak, akhirnya kami melanjutkan perjalanan.

Sambil berjalan pelan, kami pun terus berjalan mendaki. Dari sini sudah tidak kuat lagi untuk bercakap-cakap, nafas juga terasa sesak akibat oksigen yang menipis.

Akhirnya kami sampai juga di tempat peristirahatan pendakian yang disebut sebagai pos satu. Kami beristirahat lagi di sana. Di sana sepertinya aku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi karena membayangkan perjalanan pulang juga akan menempuh waktu yang sama. Kemudian diputuskan aku berhenti saja di pos satu ini dengan ditemani suami. Anak-anak tetap meneruskan perjalanan.

Kedinginan di pos satu pendakian Merbabu

Kami ditinggali tenda kecil dan alat masak untuk berdiang. Setelah ditinggal berdua di situ, aku pun langsung masuk tenda. Di tenda karena tubuh tidak bergerak ternyata langsung terasa dingin sekali. Suami di luar masih sibuk mencari ranting dan mencoba membuat api unggun. Tidak beberapa lama, api unggun pun berkobar dengan dibantu dari parafin. Tetapi karena yang dibakar adalah ranting-ranting semak yang agak basah, akibatnya asap tebal pun muncul dan cukup membuat sesak nafas. Akhirnya api unggun digeser menjauhi tenda sehingga supaya hangat harus berdiang di luar.

Menunggu api menipis kami pun kembali masuk tenda, tidur berbaring bersebelahan. Dinginnya terasa menusuk tubuh. Apalagi lama-kelamaan alas tidur kami juga terasa basah. Dalam keadaan seperti ini, tidur pun menjadi kurang nyaman. Sebentar-sebentar harus memperbaiki posisi supaya tidak kaku. Suami bahkan beberapa kali merasakan keram di kakinya saking dinginnya.

Di tenda kedinginan seperti ini terasa kaku. Tubuh rasanya membatu susah untuk digerakkan.

Bersambung ke bagian kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s