Geblek lho bukan Goblok – Kuliner Khas Gombong

Ada satu jenis makanan khas yang unik dan mungkin hanya dijumpai di daerah Gombong Kebumen saja. Mungkin banyak orang yang belum tahu dan tentu saja belum pernah mengicipinya. Bukan makanan untuk oleh-oleh sih…

Di daerah Gombong atau tepatnya daerah Petanahan yakni dari Gombong ke selatan, maka dapat dijumpai satu makanan yang disebut Geblek. Jangan salah menafsirkan makanan ini berdasarkan namanya menjadi satu konotasi yang negatif, mendekati istilah umpatan goblok atau geblek. Untuk nama makanan ini dibaca seperti membaca kata pete (petai). Pokoknya makanan ini terus jangan diartikan untuk orang-orang geblek, lha buktinya keluarga kami juga senang membeli dan mengkonsumsinya.

Pertama kali kami mengenal makanan geblek ini saat berhenti istirahat mencari bekal makanan kecil waktu di daerah Petanahan. Biasanya kalau lewat jalur selatan sepanjang pesisir Congot-Petanahan ini, kami berhentinya adalah di Ambal. Namun waktu itu karena mengejar waktu sehingga tidak berhenti dan meneruskan perjalanan sampai Petanahan ini. Baru di sini anak-anak ribut kelaparan, sehingga kemudian berhenti di dekat pasar dan di sinilah menemukan orang yang berjualan geblek ini.

Penjual angkringan geblek di Petanahan, Gombong, Kebumen.

Penjual angkringan geblek di Petanahan, Gombong, Kebumen.


Geblek sebenarnya makanan yang relatif cukup enak, khususnya jika dimakan saat malam dan masih hangat selepas digoreng. Makanan ini berasal dari ubi singkong dengan rasa asin dan gurih beraroma bawang. Geblek berbentuk untingan macam klanthing tapi berukuran lebih besar. Kalau klanthing digoreng sampai kering, maka geblek ini tidak sampai kering sehingga masih terasa liat saat digigit.

Saya sendiri belum pernah melihat proses pembuatannya tapi mendengar dari cerita bapak penjualnya. Jadi proses pembuatannya mulai dari pengupasan singkong, kemudian dicuci dan diparut dengan mesin. Setelah itu parutan singkong diberi bumbu dan dikukus untuk dijadikan adonan. Dengan ditambah sedikit tepung maka adonan ini kemudian dibentuk menjadi berbentuk panjang dan melingkar seperti cincin. Geblek ini siap untuk digoreng dan dimakan. Jadi biasanya geblek disiapkan oleh penjualnya dalam bentuk siap goreng seperti itu.

Penjual geblek biasa berjualan dengan menggunakan angkringan yang dipanggul. Satu bagian untuk wadah gebleg siap goreng. Bagian yang lainnya untuk tempat anglo dan wajan penggorengan. Untuk menggoreng geblek ini digunakan anglo tanah liat dengan bahan bakar arang. Tetapi kalau sekarang lebih banyak penjual geblek yang menggunakan kompor minyak tanah atau kompor gas. Setelah di lokasi, kemudian mulai menggoreng geblek ini dan disajikan di tempat dasaran dari bambu. Geblek digoreng dalam minyak yang cukup panas sehingga diperoleh geblek matang dan tidak keras.

Adonan geblek siap digoreng.

Adonan geblek siap digoreng.

Proses menggoreng geblek.

Proses menggoreng geblek.

Geblek telah masak.

Geblek telah masak.

Geblek kemudian di tempatkan di wadah tampah dari bambu supaya kering dari minyak. Jika ada pembeli maka tinggal pesan berapa banyak. Geblek ini kemudian diikat dengan menggunakan tali bambu. Per ikat berisi sepuluh buah geblek dengan harga cukup murah yaitu dua ribu lima ratus rupiah. Kalau sudah diikat seperti ini maka menjadi terlihat sangat unik sekali.

Rasanya gurih dan enak, sehingga saat pembeli datang biasanya tertarik untuk mencoba mencicipi langsung. Nanti jumlah geblek yang ada di ikatan tinggal dihitung dan dikurangi jumlah yang langsung dimakan sebelumnya.

Geblek ini memang lebih baik dimakan langsung di lokasi karena masih panas. Tetapi boleh juga dibawa pulang atau dimakan di perjalanan. Hanya saja kita mesti siap dengan tisu kalau makan di perjalanan karena tangan akan berminyak supaya tidak mengotori baju atau jok mobil.

Penjual makanan geblek ini biasanya berjualan menjelang sore sampai malam hari. Pada saat malam mereka membekali dengan lampu sentir untuk penerangan selain mengandalkan lampu penerangan jalan. Inilah uniknya dengan sorotan api dari lampu sentir yang bergerak-gerak terkena angin, maka dari kejauhan penjua geblek ini sudah dapat diketahui keberadaannya.

Silakan gebleknya dinikmati...

Silakan gebleknya dinikmati...

Jadi dengan tulisan ini mungkin perlu banyak orang tahu soal kuliner Geblek ini. Jika perlu geblek ini perlu diangkat dan lebih diperkenalkan lagi sebagai makanan khas daerah Gombong.

6 thoughts on “Geblek lho bukan Goblok – Kuliner Khas Gombong

  1. mba / bu Ari boleh saya mengcopy beberapa tulisan dari geblek atau kalo di ambal disebut golak/gembus ini. saya sedang mengembangkan blog yang mngupas budaya, kuliner, tempat wisata di kebumen dengan tujuan kelak Kota Kebumen bisa lebih dikenal dunia dan menjadi tujuan wisata yang digemari kalo ada waktu silahkan berkunjung ke agusbocahnakal.wordpress.com judul blog pengembara hati : berbagi untuk negeri

  2. geblek,golak,gembus .. mirip pengolahannya tapi golak lebih keras dan berbentuk seperti lanting, sedangkan gembus hampir mirip seperti geblek hanya bentuknya bulat. sentra gembus masih banyak terdapat didusun ori (gombong) cmiiw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s