Mitos Membuang Gigi Tanggal pada Anak Kecil

Hampir kebanyakan orang masih teringat peristiwa yang dialaminya saat masih kecil, yakni peristiwa yang terkait dengan gigi tanggal secara alami. Orang mengalami pertumbuhan melalui mekanisme yang sungguh menakjubkan, termasuk dalam hal ini adalah pertumbuhan dari anggota tubuh yang berada di bagian mulut. Mulut sebagai organ yang digunakan untuk fungsi alat masuknya makanan sebagai gerbang pertama pencernaan serta juga berfungsi untuk berfungsi untuk berbicara. Beberapa bagian tubuh yang terdapat dalam mulut adalah gigi, gusi dan lidah. Untuk lidah selama seumur hidup akan tetap ada dan tidak pernah ada pergantian, namun lain halnya dengan gigi. Gigi akan mengalami proses pergantian masing-masing sekali seumur hidup. Proses pergantian gigi inilah dialami saat orang masih berumur anak-anak.

Gigi manusia itu tumbuh secara alami dan berlaku dengan proses yang relatif sama untuk semua orang. Pada waktu masih bayi, mulut belum ditumbuhi gigi. Bayi saat itu yang memang belum memerlukan proses menguyah memang hanya membutuhkan nutrisi dari air susu atau jika sudah membesar dalam bentuk makanan yang halus seperti bubur. Seiring dengan waktu kemudian akan tumbuh gigi yang sering dikenal dengan istilah gigi susu. Pada periode yang memasuki perkembangan balita ini, gigi susu akan keluar bertahap mulai dari gigi depan dan disusul dengan gigi geraham di sebelah kanan kirinya. Periode berikutnya pada umur 5-12 tahun, gigi susu akan tanggal secara alamiah untuk digantikan gigi yang tetap ada sampai menjadi dewasa.

Gigi susu yang tanggal secara alamiah untuk tumbuh diganti gigi baru.

Proses pergantian gigi susu menjadi gigi tetap inilah yang akan menyebabkan pada waktu usia anak-anak akan banyak mengalami gigi tanggal. Jadi pada dasarnya setiap orang akan mengalami peristiwa ini secara alamiah tanpa ada kejadian khusus. Orang terlebih anak kecil yang mengalaminya tidak perlu harus menyikapi kejadian ini secara khusus.

Sewaktu ada anak kecil mengalami peristiwa gigi tanggal, sering ada orang dewasa yang mengingatkan untuk melakukannya ritual yang khusus. Kalau yang tanggal adalah gigi bawah maka gigi tersebut harus dilempar ke bawah, sedangkan jika yang tanggal adalah gigi atas maka gigi tersebut harus ditanam di tanah. Jika tidak dilakukan maka akan mengakibatkan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan dialami kemudian. Tentu saja apabila hal ini diberitahukan pada anak-anak maka akan merasa takut jika sampai terlanggar. Namun dalam beberapa kejadian karena gigi yang lepas tidak bersamaan, boleh jadi anak akan lupa pada suatu kejadian. Kalau sudah seperti ini tentu anak akan merasa bersalah dan mungkin menjadi was-was takut akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Jika memang benar terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, maka dia akan menghubungkan dengan ritual lempar gigi yang lupa dipatuhi itu.

Ritual untuk membuang gigi seperti ini hanya berupa mitos saja yang tidak dapat diberikan alasan logisnya. Mitos seperti ini perlu dibuang jauh-jauh dan tidak perlu ditularkan pada anak-anak kita. Dari sisi kesehatan maupun sisi agama, tidak ada hal yang memberikan alasan untuk membenarkan ritual atau kebiasaan untuk membuang gigi ini.

Proses pergantian gigi susu ini dapat terjadi dalam beberapa proses. Ada anak yang mengalami gigi tanggal ini dengan sendirinya karena memang sebelumnya goyah atau sudah tersundul gigi bawahnya. Ada juga yang harus digoyang-goyang sendiri kemudian tanggal. Tetapi ada juga yang harus pergi ke dokter gigi untuk melepaskan gigi yang goyah itu.

Proses pelepasan gigi ini di dokter gigi sebenarnya sekalian melatih agar anak tidak takut pergi ke dokter gigi. Proses pelepasan ini dapat dilakukan secara cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit pada anak-anak. Mungkin pada awalnya anak-anak takut melihat peralatan yang tersedia di ruang praktek, tetapi dengan komunikasi yang dijalin baik dengan dokter gigi, maka ketakutan anak-anak akan hilang. Proses ini mungkin harus selalu didampingi orang tua atau saudara anak tersebut untuk membesarkan hati. Dokter gigi akan memberikan bius dengan kapas sebagai anestesi ringan, dan kemudian dapat mencabut gigi susu yang sudah goyah itu secara cepat.

Setiap pelepasan gigi tentu akan diiringi dengan keluarnya darah dari gusi tempat tumbuh gigi. Keberadaan darah yang keluar ini yang biasanya membuat anak takut. Sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan menyumpal gusi bekas tempat tumbuh gigi dengan menggunakan kapas. Hal ini akan dapat membantu penyerapan darah ke kapas. Darah biasanya akan segera berhenti dalam waktu singkat. Jika sudah berhenti maka mulut sudah normal lagi dan tidak ada sesuatu yang harus dijaga lagi. Mungkin saja saat pertama akan merasa aneh, saat mulut digunakan untuk mengunyah karena posisi itu tidak ada giginya lagi menunggu gigi bawahnya yang akan tumbuh.

Gigi susu pada anak-anak akan tanggal semua secara alamiah untuk tergantikan gigi baru.

Sosialisasi tentang mitos membuang gigi ini bahkan pernah ditayangkan sebagai materi salah satu iklan komersial dari produk pasta gigi terkenal. Iklan ini ditayangkan di televisi secara menarik. Cerita yang digambarkan adalah anak laki-laki yang mengalami gigi tanggal kemudian terlupa untuk membuang gigi tersebut ke atas atap. Kemudian dengan sedikit pengarahan dari orang tuanya bahwa hal itu tidak apa-apa dan tidak berakibat sesuatu.

Kalau gigi bawah harus dibuang ke atas dan gigi atas ditanam, itu sepertinya bermakna di buang ke arah yang berlawanan dengan posisinya. Mestinya kalau hal ini benar, ritual ini akan lebih pas lagi kalau gigi kanan berarti harus dibuang dengan tangan kiri. Demikian juga sebaliknya, kalau yang lepas adalah gigi kiri maka harus dibuang dengan tangan kanan. Haha… ini malah mengajari membuat mitos baru….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s