Pohon Mangga Manalagi di Halaman Depan

Meski tinggal di perumahan dengan halaman terbatas, tetapi dipikir perlu juga ada perindang alami untuk melengkapi rumah tempat tinggal kami. Pilihan yang mungkin adalah dengan menanam pohon di halaman terbuka yang masih tersisa. Dari berbagai pilihan jenis pohon yang ada, tentu saja prioritas pertama adalah pohon dari jenis tanaman hias atau pohon buah-buahan.

Pada saat pindah ke rumah sekitar tahun 1996 dahulu, setelah rumah direnovasi maka terdapat dua petak halaman yakni halaman depan dan sepetak halaman di bagian belakang. Halaman depan selanjutnya ditanam pohon cemara kipas setinggi setengah meter dan pohon mangga manalagi yang bibitnya kebetulan diperoleh dari om Luk dari Semarang. Sisa halaman ditanami dengan rumput manila. Untuk halaman belakang hanya ditaburi kerikil dan untuk tempat menjemur baju.

Di halaman belakang dulu, sempat jadi halaman yang banyak untuk ditumbuhi tanaman iler-ileran. Ini tanaman semak dengan warna daun yang beraneka macam. Dulu sempat dikumpulkan ada sekitar 15 jenis dengan aneka warna dan bentuk daun. Ada tanaman iler dengan warna hijau pupus, kuning, merah, ungu serta campuran warna dengan aneka motif  atau corak. Dari sisi bentuk ada yang jenis  daun lebar ada yang ramping, serta beberapa tanaman dengan bentuk bergelombang di tepi daunnya. Tanaman ini mudah tumbuh karena tinggal disetek dari batangnya. Pengumpulan tanaman ini juga diperoleh ada yang beli, ada yang minta, bahkan ada yang cuma mengambil setek dari tepi jalan (alias tanaman sepanyol, separo nyolong, hehe….). Perawatannya juga mudah, karena tinggal disirami saja dan harus kena panas matahari agar daun terlihat lebih cerah. Setiap beberapa bulan harus dipangkasi untuk terlihat rapi dan merangsang keluar tunas yang baru. Periode tanaman iler akhirnya habis saat ditinggal oleh penanamnya ke Austria.

Tanaman iler kecil

Seiring dengan waktu, di bagian halaman depan,  pohon cemara dan pohon mangga tumbuh besar. Pohon cemara ini tumbuh merimbun tetapi tajuknya tidak simetris karena di bagian dalam relatif kurang terkena panas. Pohon cemara ini sering jadi tempat serangga berumah, khususnya  laba-laba dan serangga yang berumah. Sebenarnya pohon ini bagus karena daunnya cukup hijau serta yang penting tidak banyak menghasilkan sampah. Namun lama kelamaan pohon tumbuh besar dan tidak seimbang lagi dengan areal halaman yang tersedia. Batang utama akhirnya coba dipangkas, namun beberapa bulan kemudian malah berakibat pohon cemara kipas ini mati, sehingga akhirnya dibuang.

Pohon mangga di halaman depan terus tumbuh membesar. Pertama kali berbuah saat berumur sekitar 2 tahunan. Ternyata mangga manalagi yang ukuran buahnya sedang-sedang saja ini memiliki rasa yang cukup manis. Mangga ini ada yang bilang mangga madu, karena di dalam buah yang matang, kadang ada bagian yang berwarna kuning tua. Bagian ini berbeda dengan warna daging buah secara keseluruhan yang berwarna kuning cerah. Mungkin inilah yang disebut sebagai madu. Setelah berumur 4 tahun sampai sekarang, pohon ini rutin berbuah. Kalau sedang panen besar, biasanya buah tidak habis sendiri, paling sering dibagi-bagikan. Yang unik, pohon mangga ini hampir setiap saat berbunga dan sampai menghasilkan buah yang matang, tidak selalu harus pada musim bunga. Setelah bagian cabang yang ini buah habis, kemudian langsung disusul dengan bagian cabang lain sudah memunculkan bunga dan calon buah baru.

Pohon mangga depan rumah saat berbuah

Buah mangga manalagi di halaman saat musim buah tahun 2009

Pada batang pohon mangga ini, di sekelilingnya juga digantungkan pakis tanduk rusa dan pakis sarang burung. Sebenarnya masih ada lagi anggrek melati yang kemudian tumbuh di bagian cabang atas. Sekarang malah batang pohon jadi dililiti tanaman melati yang tumbuh di tanah sekitar pohon, mungkin karena tidak ada rambatan yang bagus, akhirnya malah merambat ke batang pohon. Keberadaan tanaman ini sebenarnya menjadi epifit bagi pohon mangga, namun karena pohon juga tetap subur, akhirnya dibiarkan saja. Hanya saja permasalahannya, rambatan ini jadi rumah semut. Kalau dulu yang sering adalah semut krangkrang yang berwarna merah, sekarang kalah dengan serbuan semut hitam.

Memetik pohon mangga

Memetik pohon mangga

Di halaman depan, bagian kosong yang tadinya tumbuh pohon cemara kipas, sekarang ditanam dengan pohon apokat. Pohon ini berasal dari biji apokat yang rutin dikirim dari rumah di Blater Purbalingga. Apokat ini jenis apokat yang besar bisa mencapai setengah kilo lebih per buahnya. Pohon ini cepat tumbuh besar, namun sering dipangkas karena menaungi dan berdekatan dengan rumah sebelah. Akibatnya jarang bisa sampai berbuah lebat karena sering dipangkas. Pernah beberapa kali menghasilkan buah dengan ukuran dan rasa yang sama dengan apokat dari pohon bibitnya. Pohon ini banyak menghasilkan sampah dari daun-daun yang rontok, dan kalau terbawa ke atap, sering menutup saluran talang atap.

Mumpung ingat, yang di halaman belakang sekarang tumbuh pohon srikaya. Pohon ini aslinya tumbuh liar karena bukan sengaja ditanam, tapi kemungkinan dari biji buah srikaya. Seingat saya, dulu sering beli buah srikaya itu kalau pergi ke pantai Baron, Wonosari. Biji buah biasanya ya disebar dan salah satunya bertunas dan bisa tumbuh besar sampai sekarang. Karena tajuk pohon tidak begitu lebat dan tidak menutupi tempat jemuran baju, akhirnya pohon dibiarkan tumbuh. Lumayan saat-saat tertentu pohon akan berbuah, walaupun tidak begitu lebat.

Di komplek kami, sebenarnya tipe rumah dan halaman yang tersedia sebenarnya hampir serupa. Beberapa rumah memang memiliki pohon tetapi makin lama makin banyak yang ditebang. Kalau tempat kami sih, kalau bisa dipertahankan ya tetap dibiarkan tumbuh saja. Memang kadang bikin repot sih, ya karena daunnya yang jadi sampah, kadang dahan rontok, banyak semut atau kadang harus dipangkas. Tetapi lumayanlah kondisi ini bisa jadi bikin suasana teduh dan minimal ada suasana hijau di rumah.

About these ads

4 thoughts on “Pohon Mangga Manalagi di Halaman Depan

  1. pohon cemara kipas??? kayaknya di depan ruma tu adanya pohon mangga sama pohon alpukat deh, nggak ada yg namanya cemara kipas…..

  2. Ping-balik: 2010 in review « Blog Ari Dharmayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s